Minggu, 24 September 2017

Boh Jambe Kleng ( Buah Jamblang )

Buah Jamblang (boh jambe kleng)



kalau di bilang suka biasa aja, ini pun sudah tidak musim nya lagi di Aceh. Minggu lalu ke Pantai Lhok Mee (pasir putih) ada bocah laki² yang menghampiri saya, menawarkan buah jamblang ini.

Teringat setiap lewat Jembatan Pante Perak selalu terbayang anak² yang menjual sepanjang Jembatan PP, gak pernah kesempatan untuk menepi kendaraan membeli nya.

Saya langsung mengambil uang di saku untuk membayar buah jamblang ini. Buat kita berapalah uang 5rb untuk satu plastik/ satu cup buah jamblang, tapi bagi mereka sangat berarti.

Nah karena ada stok di kulkas, dan lagi pingin yang asam segar, eksekusi langsung ke dapur, ambil cobek petik cabe keriting di depan yang udah bisa panen, ulek² kasih gula pasir dan garam. Lumayan kan ya cemilan edisi hilangin sakit kepala yang lagi nyut² sejak tadi sore.

Jumat, 16 April 2010

" Kampung Biduen "

28 Maret 2010, 09:20
Catatan Aceh yang Tercecer
Kampung Biduen
M Adli Abdullah - Budaya


AHAD ini, kita mengupas kisah Kampung Biduen (Pelacuran) di Lampulo Banda Aceh. Beratus-ratus tahun lalu, kampung ini menjadi pusat prostitusi pada masa kerajaan Aceh. Namun sebutan ini dapat dihapuskan dengan kelembutan tangan Syeikh Abdurrauf Al Fansuri Ashingkili.

Kisah ini saya peroleh dari tulisan Muhammad Yunus Jamil yang meninggal dunia pada tahun 1978. Sejarawan sederhana ini memang selalu menukilkan sejarah Aceh dari perspektif lokal. Salah satu buku yang terakhir berjudul “Gerak Kebangkitan Aceh”.

Dalam buku itu, Yunus menuturkan bahwa disebelah timur daratan pantai kuala Aceh, dulunya daerah perdagangan dan banyak bangsa asing, dari Eropa, India, Cina, Arab menetap di sana dan disitu tempat loji-loji bangsa asing. Disitu juga ada Kampong Bidook, juga disebut kampung Biduen (kampung pelacuran). Saat itu, selain warga Aceh, banyak orang orang seperti orang Tionghoa serta orang asing (bukan Eropa) yang menetap di sana (Yunus Jamil:1975).

Komplek pelacuran ini hilang setelah Syeikh Abdur Rauf Al Fansuri Asshingkili mendarat di pantai kuala Aceh. Sebelum dikenal sebagai Syaikh Abdur Rauf, ulama yang sangat
disegani lebih dahulu ingin menyelamai keadaan sosial budaya masyarakat Aceh waktu itu. Diceritakan sebelum menghadap Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1675), Syeikh Abdurrauf setelah pulang ke Aceh pada tahun 1584 dari pengembaraannya di Arab selama 19 tahun, menyamar sebagai seorang pawang dan menetap di kampung Bidook (Biduen) dan meminta izin pada Panglima Laot kerajaan Aceh untuk bisa menetap disana.

Di komplek pelacuran tersebut, Syeikh Abdur Rauf selain membasmi praktek pelacuran tersebut juga mendirikan pusat pendidikan dan pengembangan Islam. Jadi model dakwah Syeikh ini sangat manjur. Karena dia mampu mengobati berbagai penyakit yang diderita oleh masyarakat. Kemampuan ini tentu saja menjadi buah bibir mulai dari masyarakat kecil hingga ke istana. Selain itu, dia juga dikenal sebagai pawang yang selalu mendapat tangkapan ikan selalu sangat banyak. Kepiawaan dalam melaut ini banyak menarik perhatian penduduk ampung yang didominasi oleh orang asing (Yunus Jamil:1975).

Akhirnya, tenarlah Syeikh Abdur Rauf sebagai seorang pawang yang alim dan juga sebagai tabib yang mujarab. Dia mampu mengubah kampung Biduen sebagai tempat pelacuran menjadi pusat thariqat shatariah. Disebutkan bahwa masyarakat sekitar mengikutinya. Karena kemampuan lahir dan batin inilah beliau dikenal sebagai pawang keramat dan tabib yang mahir.

Karena keterkenalan beliau dalam pada perayaan maulid nabi Muhammad saw pada tahun 1075 H (1665) diundang ke Istana Darud Donya oleh Sultanah Ratu Safiatuddinsyah (1641-1675). Dalam pertemuan tersebut Syeikh Abdur Rauf memperkenalkan diri bahwa selama ini dia menyamar sebagai nelayan dan tabib untuk memperbaiki kerusakan akhlak generasi Aceh.

Dia menuturkan bahwa perhatian Sultanah Safiatuddin Syah terhadap persoalan ini sangat minim. Karena itu pula kemudian Syeikh Abdurrauf diangkat menjadi waliul amri dan mufti kerajaan Aceh sampai beliau wafat pada malam Senin, 23 Syawwal 1106 H/1695M (Wan Mohd. Shaghir Abdullah:2008)

Pengalaman kampung Bideun dan sosok Syeikh Abdur Rauf memang jarang diangkat ke permukaan. Yang menarik adalah sosok ulama ini dalam mengubah tatanan masyarakat yang sudah hancur menggunakan cara yang santun. Untuk mengubah komplek pelacuran dia memadukan kekuatan dunia dan batini. Dari aspek duniawi, dia memperlihatkan bagaimana seorang ulama yang ingin mencari rezeki yang halal, tanpa menadah tangan ke atas. Sedangkan dalam nuansa kebatinan dia mampu memperlihatkan bagaimana peran tarekat di dalam membasmi maksiat.

Kampung Bideun memang tidak ada lagi pelacuran. Namun isu pelacuran di Aceh dan anak-anak Aceh yang menjadi pelacur di luar Aceh adalah fenomena yang tidak dapat disangkal. Karena itu, kita berhadap ada generasi seperti Syeikh Abdur Rauf yang mampu mengubah tatanan seperti kampung Bideun dan kampung-kampung lain yang sudah rusak di Aceh. Inilah sebenarnya harapan kita pada ulama saat ini, yaitu harus mengelola aspek dunia dan batini untuk memperbaiki moral masyarakat.

Memberantas maksiat dengan lemah-lembut, bukan dengan paksaan. Terjun langsung ke lapangan dengan tinggal bersama mereka. Tidak membuat jarak atau memusuhi mereka. Tidak ada sikap anarkis yang diperlihatkan oleh Abdur Rauf dalam mengubah kampung rostitusi menjadi kampung yang islami.

Demikian pula, Syeikh Abdur Rauf walaupun dikenal memiliki karya intelektual yang diakui di dunia, namun perannya dalam masyarakat tidak dapat diabaikan. Sebelum menjadi wali amri pemerintah Aceh, terlebih dahulu dia menjadi rakyat supaya mengerti betul masalah rakyat. Jadi, jika kemudian di Aceh ada isu menjadi wali nanggroe, maka perlu meniru gaya keulamaan Syeikh Abdur Rauf tersebut. Sebab, bagaimana pun persoalan Kampung Bideun pada era Sultanat, tetap bisa dijumpai pada masa sekarang. Hanya saja, kita belum mendapatkan sosok yang mirip dengan Syeikh Abdur Rauf. (Penulis; M Adli Abdullah)

" Virus WAHAN "

- Virus WAHAN.. adalah Penyakit yg Mematikan di Akhir Zaman -
Share
Today at 4:16am
Al Wahan adalah salah satu penyakit yang menjangkiti manusia akhir zaman. Bahaya wahan jauh lebih dahsyat dari pada AIDS, TBC, Flu Burung, atau Flu Babi. Karena penyakit ini akan mematikan hati dan ruh sehingga menyebabkan penderitaan yang panjang di dunia dan terlebih di akhirat.



Istilah wahan diungkapkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tatkala menjelaskan kondisi umat manusia di masa akan datang. Penyakit wahan ini menjadi penyebab utama segala keburukan dan keterpurukan umat Islam sehingga karenanya mereka menjadi bulan-bulanan musuh-musuh islam. Bahkan lebih tragis lagi, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengibaratkan mereka laksana makanan yang menjadi rebutan orang-orang rakus yang kelaparan.

Dari Tsauban radliyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Akan datang suatu masa, di mana bangsa-bangsa akan mengeroyok kalian seperti orang-orang rakus memperebutkan makanan di atas meja.

Ada seorang yang bertanya, ‘Apakah karena pada saat itu jumlah kami sedikit?’

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Tidak, bahkan kamu pada saat itu mayoritas, akan tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air laut. Sesungguhnya Allah telah mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan telah mencampakkan penyakit al wahan pada hati kalian’.

Seorang sahabat bertanya: ‘Ya Rasulallah, apa penyakit al wahan itu?.’

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Al Wahan adalah penyakit cinta dunia dan takut mati’ “. (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya)

‘Al Wahan adalah penyakit cinta dunia dan takut mati’

Sebab-sebab Wahan

Penyakit wahan timbul karena merasuknya cinta kepada dunia ke dalam hati manusia, seperti cinta berlebih kepada harta, benda, tahta, wanita, dan lainnya. Dari kecintaan dunia yang sangat berlebih nantinya akan melahirkan mental pengecut yang takut mati.

Cinta dunia dan takut mati saling berkait, laksana satu paket. Keduanya menjadi penyebab kehinaan dalam Dien di hadapan musuh. Semoga Allah melindungi kita darinya.

Akibat dari penyakit wahan akan menumbuhkan keengganan berjuang dan berjihad untuk mempertahankan iman dan memperjuangkan agama. Padahal meninggalkan jihad merupakan sebab keterpurukan umat ini. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

"Jika kalian berdagang dengan sistem 'inah (salah satu bentuk riba), kalian ridha dengan peternakan, kalian ridha dengan pertanian dan kalian meninggalkan jihad maka Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian." (HR. Ahmad, Abu Daud dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam al Silsilah, No. 11)

Lajnah Daimah dalam memberikan penjelasan dari hadits ini menyimpulkan bahwa dalam hadits terdapat celaan dan ancaman bagi orang yang sibuk dengan pertanian dan peternakannya di saat musim jihad. Dari situ dapat disimpulkan bahwa di antara dimaksud dengan Dien (yang menjadi solusi dengan kembali padanya) dalam hadits ini adalah Jihad. Karena shalat, zakat, puasa, haji dan dzikir tidak akan mampu mengangkat umat ini dari kehinaan. Semua ibadah ini memang merupakan bagian dari Ad-Dien dan mempunyai peran penting, dalam melenyapkan kehinaan ini.

Cinta dunia dan takut mati saling berkait, laksana satu paket. Keduanya menjadi penyebab kehinaan dalam dien di hadapan musuh.

Manusia pada dasamya ingin kaya, pangkat tinggi, memiliki pangaruh yang besar, terkenal di mana-mana, dan mempunyai istri yang cantik. Manakala seseorang telah mencapai keinginannya sementara aturan-aturan Allah tidak dipergunakan dalam mengatur dan mengendalikan kekayaan dunianya, maka inilah yang disebut materialistis, alias cinta dunia.

Faham materilisme ini sama sekali tidak dibolehkan dalam ajaran Islam, bahkan adalah merupakan musuh Islam yang tergolong utama. Faham ini merupakan warisan dari Iblis la’natullahi’alaihi, yang memang kehadiran dan keberadaanya di dalam diri hanya untuk menggoda agar manusia rusak, sehingga (pada akhirnya kelak) menjadi penghuni neraka bersama Iblis.

Kepada Iblis Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya: “Apakah yang menghalangimu sujud kepada Adam?” Iblis menjawab: “Aku lebih baik daripada Adam. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah ?” (QS.Al-A’raaf: 12).

Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan timbulnya penyakit wahan di masyarakat muslim, yakni:

1. Kaum muslimin banyak yang belum memahami karakteristik ajaran Islam itu sendiri. Akibatnya, dengan mudah mereka menerima faham-faham yang tidak sesuai ajaran Islam. Mereka hanya menerima hal-hal yang sesuai dengan tuntutan hawa nafsunya. Sedangkan hal-hal yang jelas berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam dilihat dan disikapinya sebagai suatu beban dan menyusahkan kehidupan. Mereka merasa ragu dan telah phobi terhadap Islam.

2. Pengaruh racun berpikir yang disuntikan sejak lama oleh musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin. Proses pencekokan tersebut berlangsung dengan demikian halus dan terorganisir, sehingga umat Islam menjadi lemah dan terpecah-pecah. Hal itu sesungguhnya amat kita lihat dan rasakan.

3. Kekuasaan militer, politik dan pemerintahan yang tidak berada di tangan kaurn muslim sehingga urusan umat Islam diserahkan kepada orang-orang kafir lagi fujur, fasik dan munafik. Mereka mengangkangi kaum muslimin dalam berbagai bidang.

4. Untuk mewujudkan cita-citanya musuh-musuh Islam (Yahudi dan Nasrani) merancang taktik strategi untuk menghadapi umat Islam. Mereka memanfaatkan kekayaan, ilmu pangetahuan, dan teknologi yang mereka miliki untuk menghadapi dan memperdaya umat Islam. Sehingga situasi dan kondisi dunia lslam benar-benar dalam keadaan lemah, terbelakang, terpecah-pecah, dan malah sesama umat Islam itu sendiri saling beradu dan bermusuhan.

Membasmi Penyakit Wahan


Penyakit wahan ini bisa diatasi dengan jalan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kembali kepada tuntunan ajaran Islam. Mereka yang merasa bahwa penyakit ini telah menghinggapi dirinya hendaklah melakukan langkah-langkah berikut :
1. Meningkatkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hari akhir, sampai pada derajat yakin. Dengan keyakinan ini penyakit cinta dunia atau takut mati akan hilang.
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al Hadid:20)

2. Selalu mengkaji dan memahami ajaran Islam, terutama bidang akidah, yang merupakan inti ajaran Islam. "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang Hak) melainkan Allah."
(QS.Mubammad: 19)

3. Menghayati perspektif Islam terhadap konsep kebahagiaan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Islam tidak mengharamkan dunia dan perhiasannya, akan tetapi menjadikannya sebagai alat untuk mencapai kehidupan dan kebahagjaan akhirat.

4. Meningkatkan dan memantapkan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan demikian maka sifat qana’ahnya muncul dan menjadi citra diri dan kehidupannya. Rasa syukurnya semakin meningkat, dan tawadhu (rendah hati) akan menjadi benteng dan sekaligus penghias dirinya.

"Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS An-Nahl:96).

5. Berjihad di jalan Allah dengan segenap kemampuannya yang ada. Karena orang yang berjihad telah menjual diri dan hartanya kepada Allah dengan surga. Dan ini adalah sebesar-besar ketundukan kepada-Nya dan sebesar-besar pengorbanan untuk-Nya. Maka tepat sekali jika Allah menjamin hidayah bagi orang yang benar dalam jihadnya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Furqaan :52)

First My BloG

Pagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii semuaaaaaa.....


wuaaahhhhh pagi yang sangat meNakJubkan Yaaaaa.. akhirnya kesampean juga buat ini blog....
padahal semalam baru tidur jam 2 Pagi.... niat udah lama' tapi mungkin Tuhan baru kasih kesempatan Qu pagi ini.... Alhamdulillah...


Banyak cerita nanti disini yang akan aQ tumpahkan....
maklum slama ni aQ cuma nulis nya di My Diary.... udah banyak tuh buku Diary Qu, yang setia nemenin perjalan hidup Qu.... nah sekarang aQ udah punya tempat yg lebih leluasa untuk bisa nulis apa aja.....


Tuk permulaan segini dulu yaaa..... ntti aQ lanjut lagi....